Hari Pertama ke Sekolah
“…Oh ibu dan ayah selamat pagi, ku pergi sekolah sampailah nanti. Selamat belajar nak perlu semangat. Rajinlah belajar tentu kau dapat…..” bait lagu ini masih kuat dalam ingatan yang selalu dinyanyikan sewaktu sekolah dasar dulu. Teringat jelas bagaimana dengan semangat membara senandung lagu ini dinyanyikan mengiringi langkah murid-murid berangkat sekolah di pagi hari. Kemeja putih dengan dasi merah menggantung di leher, menambah keinginan untuk cepat melangkah pergi ke sekolah bertemu dengan teman-teman.
Dan sekarang, tak terasa tiba-tiba saja seorang anak kecil sudah berdiri tegap dihadapan ku lengkap dengan seragam sekolahnya, kemeja dan celana merah, masih baru…. Garis-garis bekas lipatan dari toko baju masih terlihat jelas di kemeja putihnya. Senyumnya lebar menampakkan kesiapan untuk menyongsong hari pertamanya kesekolah.
Ya, anak itu Hudzaifah, anak pertama ku, yang hari ini memulai lembaran baru dalam hidupnya menapaki dunia pendidikan formal di sekolah dasar. Sejarah seperti terulang lagi, bak melihat didalam cermin, sosok kecil dihadapanku ini mengingatkan kembali kondisi diriku 31 tahun silam, ketika pertama kali masuk sekolah dasar. Betapa semangat itu pernah kurasakan ketika pertama kali mengenakan seragam putih-merah itu, senang bukan kepalang. Senyum lebar itupun pernah ku tampakkan dihadapan emakku ketika ia selesai mendandani diriku disuatu pagi yang cerah. Wah, tak terasa mata ini berkaca-kaca…
Ditengah carut-marutnya dunia pendidikan formal di Indonesia ini, aku tak berharap banyak dengan hasil yang didapat oleh anak ku kelak. Kasus guru memukuli muridnya sampai kasus contek massal di Jawa Timur, menambah deretan panjang sisi gelap dunia pendidikan formal di Indonesia yang melatar belakangi keyakinanku itu. Apalagi setelah kuketahui masih ada sekolah yang menyeleksi murid-murid baru dengan berbagai kriteria aneh setelah ada aturan dari pemerintah bahwa setiap sekolah formal, SD dan SMP, tidak boleh menolak murid baru yang ingin mendaftar di tempatnya. Gilanya lagi, ada sebuah sekolah di wilayah ku ini yang masih meminta sejumlah uang kepada orang tua calon murid setelah anaknya masuk dalam daftar murid baru di sekolah tersebut. Pufff….
Teringat cerita pak Reynald Kasali dalam sebuah artikel di millis TDA Bekasi, betapa mudahnya calon murid sekolah dasar di luar negeri mendaftarkan diri ke sekolah bonafide di wilayahnya tanpa biaya dan kriteria apapun. Orang tua calon murid hanya membawa anak-anaknya kesekolah yang di tuju dan wusss…tiba-tiba saja anak tersebut sudah duduk di bangku mengikuti pelajaran di kelasnya.
Teringat pula sebuah fabel yang pernah kubaca di millis yang sama mengenai empat anak hewan (elang, monyet, rusa dan ikan) yang bersekolah di sebuah sekolah hutan. Semuanya harus mengikuti pelajaran yang di wajibkan oleh sekolah tersebut, yaitu pelajaran terbang, berenang, berlari dan memanjat pohon. Hasilnya, anak elang harus rela berjalan tertatih-tatih karena sayapnya patah akibat harus mengikuti pelajaran berenang dan memanjat pohon. Anak monyet tergeletak tanpa hasil setelah susah payah belajar terbang sekaligus berenang, anak rusa berjalan pincang hasil dari pelajaran memanjat pohon dan anak ikan merelakan sirip dan ekornya yang indah terkoyak-koyak akibat susah payah mengikuti pelajaran berlari dan terbang.
Fabel diatas adalah kiasan kurikulum pendidikan sekolah formal di negara kita saat ini. betapa setiap anak memiliki kemampuan dan bakat yang berbeda-beda dan Jelas tidak bisa di satukan dalam system pengajaran yang sama dalam rentan waktu tertentu. Apalagi yang menjadi patokan bahwa seorang anak itu berhasil adalah nilai yang tinggi. Maka tak heran seorang ibu bernama Siami di desa Gadel, di usir dari kampungnya karena melawan arus contek massal yang di lakukan oleh guru-guru di sekolah anaknya hanya untuk mendapat nilai tinggi.
Seorang anak yang berbakat menghitung, tentu tidak bisa dibandingkan dengan anak yang berbakat menggambar. Dan seorang anak yang berbakat olah raga pun tidak bisa di sandingkan dengan anak yang berbakat menyanyi. Dulu ketika di sekolah, seorang teman terlihat paling tua di kelas akibat beberapa kali tidak naik kelas, selidik punya selidik ternyata temanku ini sangat menyukai bidang olah raga sepak bola dan ia harus tinggal kelas beberapa kali akibat seluruh nilai pelajarannya jeblok, kecuali pelajaran olah raga. Untungnya temanku tersebut tidak menyia-nyiakan sebuah kesempatan ketika di tawarkan masuk sekolah sepak bola, dan hasilnya, ia termasuk dalam timnas sepak bola era 90an!
Negeri China sudah mereformasi system pendidikan yang saat ini sedang di terapkan di Indonesia puluhan tahun yang lalu, hasilnya seperti yang kita lihat belakangan ini, China menjadi momok yang mengerikan bagi dunia Barat dalam hal industry dan perekonomian dunia! Ups....., jadi melantur, maka kubiarkan saja ini mengalir, ku biarkan saja sosok kecil di hadapanku ini merasakan dunia pendidikan formal di negeri ini yang carut-marut bersama teman-temannya di sekolah barunya, karena itu memang kemauannya. Toh bila saat jenuhnya tiba, telah kupersiapkan sesuatu untuk dirinya...



Komentar
Posting Komentar